Pengamen yang selalu berfikir, “…biar gua ngamen yang penting halal!” Are you sure itu halal?
Memang yang berhak menilai sesungguhnya adalah Tuhan apakah itu dosa atau tidak, halal atau haram. Tapi ayo kita bedah bersama-sama. Sebuah keluarga yang sedang asyik makan di kaki lima sebuah mal sambil bercerita-cerita yang menyenangkan karena sangat jarang keluarga ini keluar bersama untuk makan (low budget), tiba-tiba datang pengamen coming out of the blue teriak-teriak diiringi genjrengan gitar dengan skill kurang terasah, menyanyikan lagu Indonesia. Percakapan keluarga terpaksa dihentikan. Ibu mencoel tangan sang bapak. Maksudnya ada recehan nggak? Lebih tepat maksudnya adalah punya recehan untuk ngusir pengamen itu gak? Duar… Artinya apa? Sebenarnya, pengamen itu mengganggu. Dia datang tidak diminta dan tiba-tiba mengganggu orang lain. Mana ada melakukan perbuatan tidak menyenangkan itu halal. Dalam KUHP buatan manusia saja perbuatan tidak menyenangkan dikategorikan tindakan pidana. So, fikirkan lagi kalau mengamen itu adalah melakukan sesuatu yang halal.
Sopir angkot, sopir bis, sopir mikrolet, dan sejenisnya. Kalau ini sih semua orang Indonesia sudah tahu. Bengal banget deh para sopir ini. Tapi satu hal mungkin bisa menyadarkan mereka. Pekerjaan sopir ini sudah pasti halal. But, pekerjaan hala bisa menjadi haram kalau cara mendapatkannya dengan cara haram.
Tentu saja dengan ngetem sembarangan, berhenti sembarangan, egois, dan lain-lain berarti mengganggu ketertiban umum. Melanggar lalu lintas berarti melanggar keputusan bersama, itu adalah perbuatan dosa. Jadi, pekerjaan halal ini menjadi haram dengan sendirinya. Kasian ya mereka, para sopir. Sudah bersusah payah, keluar keringat, gather dosa dengan berantem dengan penumpang, ternyata hasilnya juga gak halal. Tapi saya tidak mau menjudge lebih jauh, karena ini juga permasalahan besar sosial bangsa. Solusi untuk hal ini memang menjadi domain pemerintah. Kita ikut berdosa karena membiarkan hal ini, kita ikut berdosa karena berpartisipasi naik angkot yang melanggar lalu lintas, kita berdosa karena tidak bisa menekan pemerintah untuk menertibkan hal ini. So, ternyata kita juga harus dikasihani.
Guru yang terjebak gaya hidup berlebihan sehingga terpaksa cari duit dengan cara ‘rada-rada kasar’. Pahlawan tanpa tanda jasa. Yes itu benar. Tapi jangan salah, ada juga guru yang dengan sengaja membagi-bagikan jawaban soal UAN ke anak didik mereka. Tentu saja dia bukan pahlawan, tapi penggembos masa depan. Siapa tahu anak-anak yang ‘dipaksa’ ikut konspirasi curang itu adalah calon pemimpin dunia. Kacau kan Pak Guru. Ada juga guru yang begitu inginnya memiliki gaya hidup seperti artis sinetron, terpaksa ‘menyekolahkan’ SK pegawai ke bank pemberi kredit. Ada lagi nih yang bikin kasihan. Sekali lagi atas nama membantu ekonomi keluarga, guru membuat les tambahan untuk anak didik mereka. Terus, supaya anak didik les bertambah banyak, soal ujian yang akan diberikan dibahas terlebih dahulu di les. Jadi hanya anak-anak yang ikut les yang bisa jawab soal. “BTW, kalau ada sekolah, ngapain sih ada les tambahan segala… Kenapa materi gak diberikan saja di sekolah siy… Kacau deh guru-guru ini…!”
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

chiem bagus tampilannya.
kalo ke warnet jangan sambil amuuk2an .
SABAR BUUUUK
haaaaaaaayyyyyyyyyyyyyyyyyyyy……jangan bandel ya mel…..he..hee….
Sama ahh . .
sama2 pengamen jangan suka bkn comment yang menyindir diri sendiri .
Haha.. boong denk ahh ! ulah aambeka nyaaa ….
test….
test…
test comment yeh…